KISAH INSPIRATIF TENTANG KELUARGA

KISAH INSPIRATIF TENTANG KELUARGA


Mamaku adalah orang yang sangat baik, dari kecil dia bekerja keras untuk keluarga kita. Dia bangun jam 5 pagi demi masak bubur untuk papa karena lambung papa tidak begitu baik jadi papa cuma bisa makan bubur. Selain masak bubur, mama juga menanak nasi untuk aku yang masih kecil karena aku waktu itu masih dalam masa pertumbuhan. Sorenya, mama pasti mengosok panci – panci rumah karena panci rumah kita punya fungsi lain sebagai kaca. Malamnya, mama akan jongkok mengelap lantai rumah, bayangkan lantai rumah kita lebih bersih daripada ranjang orang lain.


Tapi di mata papa, mama bukanlah pasangan hidup yang baik. Sewaktu aku hidup bersama mereka, papa sudah berkali – kali berkata kalau dia kesepian dengan pernikahannya dan tidak mendapatkan pengertian yang layak dia dapatkan. Papaku orang yang sangat bertanggung jawab, tidak merokok, tidak minum – minum, dan sangat rajin bekerja, dia juga seorang ayah yang memberi contoh yang baik untuk anak – anaknya. Di mata kita anak – anak, jasa papa itu seluas angkasa, selalu menjaga kita mengajari kita untuk jadi orang yang berhasil kelak.


Namun di mata mama, papa juga bukan pasangan yang baik. Sewaktu aku hidup bersama mereka, aku sering melihat mama duduk di pojok perkarangan rumah dan diam – diam meneteskan air matanya.


Papa lebih dominan dengan perkataan sedangkan mama lebih dominan ke perbuatannya untuk mengekspresikan kesusahan mereka pada pernikahan mereka, dan aku yang sedang beranjak dewasa bertanya pada diriku sendiri,"Mengapa 2 orang baik tidak bisa menghasilkan pernikahan yang baik?". Setelah aku masuk ke dalam pernikahan, pelan – pelan aku mulai mengerti mengapa.


Pada awal pernikahanku, aku mirip dengan mama, bekerja keras untuk rumah, mengosok panci, lantai, pokoknya mati – matian untuk pernikahanku. Tetapi yang aneh adalah, aku tidak bahagia! Aku lihat suamiku, dia juga sepertinya tidak bahagia! Aku berpikir, apakah lantai kurang bersih? Sayur yang kumasak kurang enak? Bagaimanapun aku berusaha membersihkan lantai dan memasak sayur yang enak, kami berdua tidak bahagia.


Sampai pada satu hari, pas ketika aku sedang mengelap lantai, suamiku tiba – tiba berkata,"Sayang, temani aku dengar lagu dong...", aku dengan emosinya marah,"Lu nggak lihat setengah lantai rumah masih belum dibersihin?"


Selesai mengucapkan kalimat ini, aku langsung termenung, kalimat yang tidak asing melayang – layang dalam naunganku. Di pernikahan orangtuaku, kalimat ini sering dilontarkan oleh mama ke papaku dan aku, sedang mengulang kisah hidup pernikahan orangtuaku di pernikahanku, tidak hanya itu, kami juga mengulang kembali ketidakbahagiaan mereka.


"Apa sih yang lu inginkan?",serentak aku hentikan pekerjaanku menanyakan pertanyaan tajam ini ke suamiku. Tiba – tiba aku juga teringat dengan papaku yang selalu mengeluh tidak mendapatkan perhatian dari mama dimana mama mengosok panci lebih lama daripada menemani papa.


Cara hidup mama yang tidak berhenti bekerja adalah cara dia mencintai papa dan mempertahankan pernikahan mereka. Aku, dengan latar belakang dan pendidikan yang maju, aku memilih untuk jadi berbeda, aku berhenti melakukan pekerjaanku, aku duduk menemani suamiku mendengarkan musik dan melihat kain pel yang terletak di atas lantai, rasanya itu seperti melihat mama yang sedang mengepel.


Aku menanyakan hal ini kepada suamiku,"Sebenarnya apa sih yang lu perlukan?"


"Aku cuma pengen ditemani istriku mendengarkan lagu kesukaanku, rumah mau sekotor apa juga terserah!" jawab suamiku.


"Aku pikir yang kamu perlukan itu rumah yang bersih, ada orang yang masak dan cuci baju untuk kamu.", tanyaku heran


"Itu nomor dua "lah bagiku", tegas suamiku,"Yang aku perlukan hanya kamu menemaniku seumur hidupku.", jawabannya membuat aku kaget, kami pun lanjut saling sharing, dan seketika itu barulah aku sadar, kita selalu menggunakan cara kita sendiri untuk mencintai pasangan kita, bukan cara pasangan kita.


Setiap orang berhak untuk mendapatkan pernikahan yang mereka inginkan, asalkan cara kita mencintai itu benar. Buatlah "apa yang pasanganmu perlukan" bukan "apa yang bisa aku berikan", pernikahan bukanlah mengenai diri sendiri melainkan apa yang pasangan kita butuhkan.


Like & share