Antikorupsi Harus Sejak Dini

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, ada seorang bocah kecil di daerah Makassar yang mengalami perlakuan yang tak bakal dilupakan seumur hidupnya. Ketika itu, di sekolah, guru masih mengajar dengan papan tulis yang menggunakan kapur. Hampir setiap hari, di sekolah tersebut tersedia kapur untuk menulis dalam jumlah yang cukup banyak. Alhasil, beberapa anak di sekolah tersebut sering mengambili kapur untuk dibawa pulang. Kejadian tersebut disaksikan oleh sang guru. Namun, entah mengapa, sang guru membiarkan murid mengambili kapur tersebut.


Suatu ketika, seorang bocah yang menyaksikan kebiasaan teman-temannya itu ikut tergoda mengambil dan membawa pulang kapur tulis itu. Sebab, di rumahnya, ia juga biasa belajar menggunakan papan tulis untuk mengulang kembali materi pelajaran yang didapatnya. Ketika itu, si bocah mengambil lima buah kapur untuk dibawa pulang. Dan, seperti yang lain juga, sang guru pun menyaksikan dan tetap membiarkan. Tak ada teguran, tak ada omongan apa pun. Semua dibiarkan begitu saja, sehingga murid-murid pun menganggap itu sebagai tanda sang guru mengizinkan properti milik sekolah itu dibawa pulang muridnya.


Namun, ketika bocah tadi kemudian membawa kapur tersebut ke rumah, hal yang tak disangkanya terjadi. Bocah yang saat itu baru kelas dua Sekolah Dasar tersebut mendapat teguran keras dari ibunya. Sang bocah ditanya, dari mana kapur itu berasal. Dan, siapakah yang memberikan kapur itu? Serta merta, sang bocah bercerita, bahwa kapur itu diambilnya dari sekolah. Sang ibu tak berhenti bertanya, dan segera mencecarnya dengan pertanyaan, apakah kapur itu diberikan kepada si bocah dan dengan seizin orang yang memilikinya? Sang bocah terus terang. Bahwa kapur itu diambilnya atas sepengetahuan gurunya, namun tak ada kata apa pun dari sang guru. Dan, semua itu juga sudah biasa dilakukan teman-temannya.


Dengan tegas sang ibu mengatakan, agar jangan secuil pun si bocah menggunakan kapur itu. Dan, ia berpesan, agar si bocah membungkus rapi kapur itu untuk dikembalikan keesokan harinya saat sekolah. “Jangan pernah mengambil dan memakai barang apa pun yang bukan milikmu,” pesan sang ibu kepada bocah yang kini kita kenal sebagai Abraham Samad, ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Pesan sang ibu itu memang membekas sangat kuat di benak Abraham. Dan, hal itu pulalah yang terus mendorongnya untuk menegakkan hukum dan memberantas korupsi di negeri ini dengan segenap daya dan upayanya. “Pendidikan di usia dini memang sangat penting untuk membentuk karakter seseorang. Dan, semua itu dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Dari sana, kita mendapat pendidikan dan pembiasaan untuk berbuat sesuatu yang bisa kita bawa sampai dewasa,” papar Abraham, dalam wawancara eksklusifnya dengan Majalah LuarBiasa, di kantor KPK beberapa waktu lalu.