Pengertian, Ciri, Sifat, Syarat dan Teknik Seseorang Pemimpin -*Kepemimpinan*-


         Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh
pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan
organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukanya
dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman,
ahli pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan
sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
 


Ciri-ciri Seorang Pemimpin
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai
sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma,
pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila
kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington,
Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita
harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka
dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.



Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya.
2. Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.
3.
Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa
aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara
jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
4. Bersikap
transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam
situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya.
6.
Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu
dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.
7. Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat " team work ", kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.







Syarat-Syarat Kepemimpinan



Syarat-syarat kepemimpinan
dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: (1) persyaratan kepemimpinan pada
umumnya, (2) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan dengan ciri khas
masyarakat atau negara, (3) persyaratan kepemimpinan khusus yang berhubungan
dengan jenis kegiatan atau pekerjaan.


1)      Persyaratan Kepemimpinan Pada Umumnya


Yang dimaksud dengan
persyaratan kepemimpinan pada umumnya adalah persyaratan kepemimpinan yang
berlaku bagi pemimpin apa saja. Persyaratan kepemimpinan umum meliputi hal-hal
sebagai berikut:


·          
Sehat
jasmaniah maupun rohaniah (fisik maupun mental)


·          
Bertanggungjawab
dan obyektif dalam sikap, tindakan dan perbuatan. Adil terhadap yang dipimpin.


·          
Jujur,
yang meliputi :


a.       Jujur terhadap diri sendiri,


b.      Jujur terhadap atasan,


c.       Jujur terhadap bawahan, dan


d.      Jujur terhadap sesama pegawai.


·          
Suka
melindungi,


·          
Semangat
untuk mencapai tujuan,


·          
Cerdas


·          
Percaya
pada diri sendiri,


·          
Mudah
dan cepat dalam mengambil keputusan,


·          
Memiliki
kecakapan teknis,


·          
Mempunyai
daya tarik,


·          
Berwibawa.


2)      Persyaratan Khusus dalam Hubungannya
dengan Ciri-ciri Khusus Masyarakat


Ciri-ciri
khusus masyarakat Indonesia adalah yang berhubungan dengan dasar negara, yaitu
Pancasila. Hal ini berarti kepemimpinan Indonesia harus berlandaskan kepada
falsafah Pancasila. Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila.
Kepemimpinan yang berlandaskan falsafah Pancasila berisikan azas-azas sebagai
berikut:


·          
Ketuhanan
Yang Maha Esa, yaitu kesadaran akan beragama dan beriman yang teguh.


·          
Hing
Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani, yang artinya:


o   
Hing
Ngarsa (di depan), Tulada (teladan, contoh), yang berarti seorang pemimpin di
tengah-tengah masyarakat harus mampu memberi contoh, memberi teladan yang baik
kepada para bawahan/pengikut.


o   
Hing
Madya (di tengah-tengah), Mangun Karsa (membangun semangat). Seorang pemimpin
harus senantiasa ada ditengah-tengah para pengikutnya dan mampu membangkitkan
semangat para bawahan.


o   
Tut
Wuri (dari belakang), Handayani (memberikan dorongan, memberikan pengaruh),
yang berarti seorang pemimpin dari belakang ia harus mampu memberikan dorongan,
memberikan pengaruh yang baik kepada para bawahan.


Falsafah
tersebut memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak harus senantiasa ada
di belakang terus-menerus, tetapi juga di depan, dan ada ditengah-tengah para
bawahan/masyarakat. Dengan cara demikian maka pemimpin benar-benar menyatu
dengan para bawahan/pengikut dalam keadaan atau situasi yang bagaimanapun.


·          
Waspada
Purbawisesa. Artinya: waspada (berawas-awas dan berjaga, tidak lengah), dan
Purbawisesa (kekuasaan sepenuh-penuhnya). Jadi seorang pemimpin dalam
menjalankan kekuasaannya harus selalu waspada, hati-hati, mau dan mampu
mengoreksi diri sendiri dan orang lain (bawahan).


·          
Ambeg
Parameta. Mendahulukan mana yang dianggap lebih penting. Hal ini berarti bahwa
seorang pemimpin harus pandai memilih dan menetapkan berbagai macam masalah,
dan dari sekian masalah itu mana yang harus didahulukan untuk mendapat
penyelesaian.


·          
Prasaja.
Artinya sederhana. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus bersifat
sederhana, tidak berlebihan-lebihan, sederhana dalam tingkah laku.


·          
Satya,
yang artinya setia atau loyal. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus
loyal kepada bawahan, pimpinan dengan pimpinan, atasan yang bersangkutan, dan
kepada organisasi yang dipimpinnya. Loyal kepada organisasi yang dipimpin
berarti harus berusaha untuk mengembangkan, memajukan, mengamankan dari segala
macam rongrongan yang datang dari segenap penjuru, baik yang dilakukan
perorangan maupun kelompok


·          
Hemat,
berarti tidak boros. Pemimpin harus mempergunakan dana yang tersedia seefesien
dan seefektif mungkin. Ia harus mampu membatasi penggunaan dana sesuai dengan
kebutuhan yang benar-benar penting.


·          
Terbuka,
yang berarti pemimpin harus bersedia menerima saran atau kritik yang membangun
dari semua pihak. Ia juga harus berani mempertanggungjawabkan semua tindakannya
secara terbuka.


·          
Penerusan,
yang berarti seorang pemimpin harus mempunyai kesadaraan, kerelaan, dan kemauan
untuk menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepasa generasi penerusan untuk
melanjutkan dan mewujudkan cita-cita yang ditentukan. Untuk itu seorang
pemimpin harus mampu menyiapkan dan menciptakan kader-kader penerus berkualitas
dan dapat diandalkan.




3)      Persyaratan Khusus yang Berhubungan dengan
Jenis Kegiatan atau Pekerjaan


Menurut
jenis kegiatan atau pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin,
kepemimpinan dapat dibedakan menjadi kepemimpinan lini (line leadership), dan
kepemimpinan staf (staf leadership). Persyaratan bagi kepemimpinan lini berbeda
dengan persyaratan kepemimpinan staf karena fungsi lini berbeda dengan fungsi
staf. Meskipun demikian ada beberapa persamaan persyaratan yang harus dimiliki
oleh kedua jenis pimpinan itu, anatara lain:


·          
Bersifat
ramah tamah, dalam tutur kata, sikap dan perbuatan.


·          
Mempunyai
intelegensi yang tinggi.


·          
Sabar,
ulet dan tekun dalam menghadapi masalah.


·          
Cepat
dan tepat dalam mengambil keputusan.


·          
Jujur.


·          
Adil,
dan


·          
Berwibawa.


Persyaratan
khusus bagi kepemimpinan staf akan di jelaskan dalam uraian tentang
kepemimpinan staf.


Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan :

1.
Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian Adalah gaya pemimpin yang
memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya
sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang
oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya
melaksanakan tugas yang telah diberikan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya
kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang
secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu
mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya
kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang
tugas serta tanggung jawab para bawahannya.


3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin
jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para
bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah
yang dihadapi.






Teori Kepemimpinan



            Teori
kepemimpinan membicarakan bagaimana seorang menjadi pemimpin; atau bagaimana
timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan,
diantaranya ialah:


1.    Teori Kelebihan, teori ini beranggapan
bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para
pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:


a.    Kelebihan ratio: ialah kelebihan dalam
menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari
organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara
menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan
tepat. Dengan kelebihan ratio diharapkan seorang pemimpin mampu mengatasi
segala macam persoalan yang dihadapi oleh organisasi. Pimpinan merupakan
tumpuan dari para pengikutnya.


b.    Kelebihan rohaniah: berarti seorang
pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan.
Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya
pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap
dan ucapan hendaknya menjadi suri teladan bagi para pengikutnya.


c.    Kelebihan badaniah: berarti seorang
pemimpinan hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para
pengikutnya sehingga memungkinkan untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi
masalah kelebihan badaniah ini dapat kita ambil contoh, misalnya kepemimpinan
Panglima Besar Jendral Soedirman, pada jaman revolusi. Meskipun dalam keadaan
sakit, beliau mampu memimpin perang gerilya dan ia sangat disegani. Hal ini
disebabkan oleh karena kewibawaannya dalam memimpin anak buahnya.




Teori Sifat


            Pada
dasarnya teori sifat sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa
seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang
lebih daripada yang dipimpin yang dipimpin. Di samping memiliki tiga macam
kelebihan (ratio, rohaniah, dan badaniah), hendaknya seorang pemimpin mempunyai
sifat-sifat yang positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang
baik, dan memberikan dukungan kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang
umum, misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh
inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif.


            Di
masa sekarang, di samping harus memiliki sifat-sifat seperti yang telah diuraikan
di atas, pemimpin diharapkan juga mempunyai sifat mental yang siap membangun.
Mukti Ali (saat masih menjabat sebagai Menteri Agama RI) menyatakan ada
ciri-ciri tertentu dari mental yang siap membangun, yaitu:


1)       
Suka
bekerja keras


2)       
Sabar
menderita dan menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan


3)       
Bersifat
terbuka, suka menerima ide-ide baru karena salah satu sifat dari masyarakat
ialah selalu berubah.


4)       
Mau
bekerja sama dengan pihak-pihak lain (perseorangan, badan-badan atau
instansi-instansi) yang mempunyai ide-ide baru dan baik.


5)       
Berani
melakukan eksperimen. Kalau tidak berani melakukannya maka tidak akan pernah
timbul ide-ide baru.


6)       
Hemat.
Tidak boros.


7)       
Teliti
dalam pekerjaan.


8)       
Jujur.


9)       
Bersifat
mau berbakti atau mempunyai dedikasi.


10)    Suku rukun, antara lain rukun dalam
hubungan antar agama. Kerukunan adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan.






Teori Keturunan


            Teori keturunan disebut juga teori pembawaan
lahir. Ada juga yang menyebut teori genetis. Menurut teori keturunan, seseorang
dapat menjadi pemimpin adalah karena keturunan atau warisan. Karena orangtuanya
seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikkan
orangtuanya. Hal ini berarti, seolah-olah menjadi pemimpin karena ditakdirkan.
Pada zaman penjajahan Belanda, teori ini sering menjadi kenyataan. Misalnya,
apabila ayahnya menjadi bupati, maka anaknya akan menjadi bupati menggantikan
orangtuanya. Pada abad modern dewasa ini, teori ini hanya terdapat pada
negara-negara yang berbentuk monarki (kerajaan), dimana kedudukan sebagai raja
diperoleh karena warisan atau keturunan.




Teori Kharismatis


            Teori kharismatis menyatakan bahwa seseorang
menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh) yang
sangat besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal
ini terdapat suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran dari Zat
Tunggal, dari Tuhan Yang Esa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib
(supranatural power). Pemimpin yang bertipe kharismatis biasanya memiliki daya
tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Tokoh-tokoh atau para
pemimpin yang mempunyai tipe kharismatis, misalnya: Panglima Besar Jendral
Sordirman, Ir. Sukarno, John F. Kennedy, Nehru, dan lain-lain.




Teori Bakat


            Teori bakat disebut juga teori ekologis, yang
berpendapat bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi pemimpin
karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan itu
harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki
suatu jabatan.




Teori Sosial


            Teori sosial beranggapan bahwa pada dasarnya
setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi
pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi
pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui pendidikan
formal maupun melalui pengalaman praktek. Yang menjadi masalah adalah apakah
orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak orang yang
mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak pernah
diberikan kepadanya. Sebaliknya, ada sementara pejabat yang sebenarnya tidak
mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi ia mendapat kesempatan untuk
memimpin. Apabila orang itu dalam menjalankan kepemimpinan tidak mau
mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh
cara-cara mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang
baik.




Tipe-Tipe Kepemimpinan



Yang dimaksud dengan tipe
kepemimpinan adalah gaya atau corak kepemimpinan yang dibawakan oleh seorang
pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya seorang pemimpin dalam
menjalankan kepemimpinannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain
faktor pendidikan, faktor pengalaman, faktor usia, dan faktor karakter, tabiat
atau sifat yang ada pada diri pemimpin tersebut. Orang yang ambisius untuk
menguasai setiap situasi, apabila menjadi pemimpin akan bersifat otoriter.
Orang yang mempunyai sifat kebapakan, apabila menjadi pemimpin akan menjalankan
kepemimpinan yang bertipe paternalistik. Pemimpin yang tidak menguasai bidang
tugas yang menjadi wewenangnya akan menyerahkan segala sesuatunya kepada para
bawahan, sehingga gaya kepemimpinannya bersifat laisser faire.


Dari berbagai leteratur dapat
ditemukan berbagai tipe kepemimpinan, anatara lain:


1)       
Tipe
Otokratis


Otokratis berasal dari kata
otokrat, dari kata autos dan kratos. Autos berarti sendiri, dan kratos berarti
kekuatan atau kekuasaan (power). Jadi kepemimpinan otokratis adalah
kepemimpinan yang mendasarkan kepada suatu kekuasaan, kekuatan yang melekat
pada dirinya. Hal ini berarti seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai
kekuatan atau kekuasaan (power).


Ciri-ciri kepemimpinan yang
bertipe otokratis antara lain:


a.                  
Mengandalkan
kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat pada dirinya


b.                 
Menganggap
dirinya yang paling berkuasa (kuasa tunggal)


c.    Menganggap dirinya paling mengetahui
segala macam persoalan, orang lain dianggap tidak tahu.


d.   Keputusan-keputusan yang diambil secara
sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari
bawahan. Ia bahkan tidak memeberi kesempatan kepada bawahan untuk memberikan
saran, pendapat atau ide.


e.    Keras dalam mempertahankan prinsip.


f.     Jauh dari para bawahan.


g.    Lebih menyukai bawahan yang bersikap
“yesman”, “abs” (asal bapak senang).


h.    Perintah-perintah diberikan secara paksa.


i.      Pengawasan dilakukan secara ketat agar
perintah benar-benar dilaksanakan.




2)       
Tipe
Laisser Faire


Seperti telah diuraikan
diatas, tipe laisser faire pada umumnya dijalankan oleh pemimpin yang tidak
mempunyai keahlian teknis. Tipe laisser mempunya ciri-ciri antara lain:


a.    Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada
para bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang
tugas masing-masing.


b.    Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
sehingga pemimpin tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.


c.    Semua pekerjaan dan tanggungjawab
dilimpahkan kepada bawahan.


d.   Tidak mampu mengadakan koordinasi dan
pengawasan yang baik.


e.    Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak
ditakuti apalagi disegani oleh bawahan.


f.     Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan
sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.


Berdasarkan ciri-ciri di atas,
pemimpin dengan tipe laisser faire bukanlah pemimpin dalam arti sebenarnya.
Seorang pemimpin dengan cara apapun diharapkan dapat menggerakkan bawahan
sehingga tujuan oeganisasi dapat tercapai. Cara yang terbaik ialah
mempengaruhi, bukan dengan menakut-nakuti.




3)       
Tipe
Paternalistik


Tipe peternalistik adalah tipe
kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak
yang selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan dalam batas-batas
kewajaran.


Ciri-ciri tipe paternalistik
antara lain:


a.        
Pemimpin
bertidak sebagai seorang bapak.


b.        
Memperlakukan
bawahan sebagai orang yang belum dewasa.


c.    Selalu memberikan perlindungan kepada para
bawahan yang kadang-kadang terlalu berlebihan.


d.   Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan
karena pemimpin ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan dari
pihak pimpinan yang ingin selalu memberi kemudahan kepada bawahan. Oleh karena
itu para bawahan jarang-jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kepada
pimpinan. Pihak pimpinanpun jarang meminta saran dari bawahan.


e.    Karena keputusan ada ditangan pimpinan,
maka pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan.




4)       
Tipe
Militeristis


Tipe Militeristis tidak hanya
terdapat dikalangan militer saja. Tetapi banyak pemimpin instansi (non-militer)
yang menerapkan kepemimpinan dengan tipe militeristis. Tipe militeristis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


a.    Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak
mempergunakan saluran formal.


b.    Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak
menggunakan sistem komando/perintah, baik perintah itu secara lisan maupun
secara tertulis.


c.    Segala sesuatu bersifat formal


d.   Disiplin yang tinggi, kadang-kadang
bersifat kaku.


e.    Karena segala sesuatunya melalui perintah,
maka komunikasi hanya berlangsung satu arah sehingga bawahan tidak diberi
kesmpatan untuk mengemukakan pendapat.


f.     Pimpinan menghendaki bawahan tidak diberi
kesempatan untuk mengemukakan pendapat.


g.    Pimpinan menghendaki bawahan patuh
terhadap semua perintah yang diberikannya.




5)       
Tipe
Demokratis


Tipe demokratis jauh berbeda
dengan tipe-tipe yang telah kita bicarakan. Pemimpin yang bertipe demokratis
selalu berada di tengah-tengah para bawahan sehingga ia terlibat dan
berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.


Kepemimpinan dengan tipe
demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


a.    Berpartisipasi aktif dalam kegiatan
organisasi.


b.    Bersifat terbuka.


c.    Bawahan diberi kesempatan untuk memberikan
saran-saran, ide-ide baru


d.   Dalam mengambil keputusan lebih mengutamakan
musyawarah untuk mufakat, daripada keputusan yang bersifat sepihak. Apabila
musyawarah untuk mufakat tidak berhasil maka ditempuh dengan jalan lain yang
sesuai dengan alam demokratis, misalnya secara votimg.


e.    Menghargai potensi setiap individu.


f.     Berlangsung dengan mantap. Kemantapan
kepemimpinan demokratis dapat dilihat dalam hal-hal sebagai berikut:


·          
Unit-unit
organisasi berjalan lancar, melakukan kegiatan sesuai dengan fungsi
masing-masing.


·          
Otoritas
didelegasikan kepada para bawahan.


·          
Bawahan
merasa senang, aman, tentram.


·          
Semangat
kerja bawahan tinggi, baik ada pimpinan maupun tidak ada pimpinan.


g.    Pimpinan sering turba (turun ke bawah)
melakukan pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus melakukan pengamatan
terhadap hasil yang telah dicapai, serta kelemahan-kelemahan atau kekurangan
dan kesulitan yang dihadapi para bawahan.




6)       
Tipe
Open Leadership


Sebenarnya tipe open
leadership hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya hanya terletak
dalam hal pengambilan keputusan. Tipe demokratis lebih mengutamakan musyawarah
untuk mufakat sehingga musyawarah dijadikan dasar keputusan. Hasil musyawarah
menjadi keputusan pimpinan. Dalam hal ini berbeda dengan tipe open leadership.
Pimpinan memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk memeberikan
saran, tetapi keputusan tetap ada ditangan pimpinan.




Teknik Kepemimpinan



Yang dimaksud dengan teknik kepemimpinan ialah
dengan cara bagaimana seorang pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya.


Teknik kepemimpinan dapat dibedakan menjadi 2
(dua) macam, yaitu teknik kepemimpinan secara umum, dan teknik kepemimpinan
khusus. Teknik kepemimpinan secara umum adalah teknik kepemimpinan yang berlaku
bagi setiap pemimpin, sedang teknik kepemimpinan khusus adalah teknik
kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang pemimpin yang memimpin suatu bidang
tertentu. Teknik kepemimpinan khusus akan dibicarakan lebih lanjut dalam uraian
tentang kepemimpinan staf.


Teknik kepemimpinan pada umumnya terdiri dari: (1)
teknik kepengikutan, (2) teknik human relationship, (3) teknik pemberian
teladan, semangat dan dorongan.


1)       
Teknik
Kepengikutan


Teknik
kepengikutan adalah teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang
menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi
pengikut, yaitu:


·          
Kepengikutan
karena peraturan/hukum yang berlaku.


·          
Kepengikutan
karena agama.


·          
Kepengikutan
karena tradisi atau naluri, dan


·          
Kepengikutan
karena rasio.


              Teknik
kepengikutan dapat dijalankan dengan penerangan dan propaganda.


a.        
Teknik
Penerangan ialah dengan cara memberikan fakta-fakta yang objektif. Fakta
disebut objektif bila fakta-fakta itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,
jelas sumbernya, dan tidak bermaksud mengelabuhi para pengikut untuk menutupi
kesalahan pemimpin. Supaya fakta itu jelas dan berguna maka fakta-fakta itu
harus disampaikan tepat pada waktunya dan disajikan dalam bentuk yang dapat
dengan mudah dan cepat dimengerti. Penyajian fakta-fakta yang demikian
diharapkan akan dapat menimbulkan kesadaraan dan kepuasaan di kalangan para
bawahan sehingga mereka kemudian dengan sukarela mengikuti.


b.       
Teknik
Propaganda. Teknik propaganda berbeda dengan teknik penerangan. Dalam teknik
penerangan pemimpin berusaha untuk memberika pengertian dan kesadaraan kepada
para bawahan sehingga mereka menjadi pengikut berdasarkan atas kesadaraan.


Dalam
propaganda, seseorang menjadi pengikut karena merasa terpaksa dan takut.
Propaganda merupakan suatu cara mengubah pikiran orang lain supaya menjadi
pengikut dengan cara-cara yang bersifat negatif, misalnya dengan intimidasi,
ancaman, menakut-nakuti, dan dengan paksaan.


2)      Teknik Human Relationship


Human
relationship merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan
kepuasan, baik kepuasan jasmaniah. Karena human relations bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan, teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan
berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis, maupun
kepuasan jasmaniah.


3)      Teknik Memberi Teladan, Semangat dan
Dorongan


Dengan
teknik ini seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi
semangat, dan sebagai pemberi dorongan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila
pemimpin berpegangan kepada filsafat: Hing ngarsa sung tulada, hing madya
mangun karsa, tut wuri handayani. Dengan cara demikian diharapkan dapat
memberikan pengertian dan kesadaraan kepada para bawahan sehingga mereka mau
dan suka mengikuti apa yang menjadi kehendak pemimpin.





DAFTAR PUSTAKA
http://organisasi.org/jenis_dan_macam_gaya_kepemimpinan_pemimpin_klasik_otoriter_demokratis_dan_bebas_manajemen_sumber_daya_manusia
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan


http://squidyzen.blogspot.com/2012/05/artikel-kepemimpinan.html

http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/1837086-ciri-ciri-pemimpin-berkarakter/