Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir








     Diceritakan pada jaman dahulu kala di
sebuah desa kecil tinggal seorang petani bernama Toba. Toba merupakan
seorang petani yang sangat rajin meskipun lahan pertaniannya tidak
begitu luas dan kondisi tanahnya yang cukup kering.







     
Selain bekerja sebagai petani, Toba juga mencari nafkah dengan menangkap
ikan dengan cara memancing ataupun menjaring. Hingga pada suatu hari
petani sederhana ini pergi untuk mencari ikan. Ditunggu sampai setengah
hari, tidak ada satu ikan pun yang dia dapat. 




     
Karena hari sudah mulai gelap, Toba memutuskan untuk pulang. Sesaat
sebelum meninggalkan tempat tersebut, kali pancing milik Toba bergoyang -
goyang, segeralah ditariknya kail tersebut dan ternyata seekor ikan
besar yang berwarna kuning keemasan sudah berada di ujung kail pancing
miliknya, Toba pun membawanya pulang ke rumah.




     
Sampai di rumah, saat ikan tersebut masih dalam pegangan tangan Toba
tiba-tiba ikan besar tersebut berbicara kepada petani tersebut dan
sontak membuat dia terkejut bukan kepalang.




"Tunggu, aku jangan dimakan! aku akan menemanimu bila kamu tidak memakanku" ucap si ikan tersebut.




     
Karena terkejut, ikan tersebut jatuh ke tanah dan seketika itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita.




"Sedang mimpikah aku" gumam Toba.




"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat
berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata
" ucap gadis tersebut.




"Namaku Puteri dan aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu" kata gadis itu seakan mendesak Toba




     
Toba pun mengiyakan, maka sejak itu jadilah mereka berdua menjadi suami
isteri. Namun pernikahan tersebut mempunyai satu syarat yaitu mereka
berdua, terutama Toba tidak boleh membocorkan rahasia tentang asal usul
Puteri yang seekor ikan. Jika syarat tersebut dilanggar maka akan
terjadi bencana yang dahsyat.




     
Pernikahan kedua insan ini terdengar juga oleh penduduk desa lainnya,
dan berita tersebut membuat gempar desa tersebut karena kecantikan yang
dimiliki oleh Puteri yang laksana bidadari yang turun dari kahyangan.
Toba dan Puteri hidup bahagia dan mencari nafkah seperti biasa yaitu
bertani dan mencari ikan.




     
Melihat kehidupan mereka yang bahagia, banyak orang yang menyebarkan
fitnah untuk menjatuhkan keberhasilan usaha petani tersebut. 




"Aku tahu pasti petani itu memelihara makhlus halus" kata seseorang pada temannya.




     
Berbagi fitnah dan cibiran menemani perjalanan hidup sepasang suami
istri ini, namun semua itu tidak mereka hiraukan, hingga pada akhirnya
istri toba melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan diberi nama
Putera. Kehidupan mereka pun makin bahagia dengan hadirnya buah hati
tersebut.




     
Seiring berjalannya waktu, Putera tumbuh menjadi anak yang sehat dan
kuat, namun yang selalu membuat heran kedua orangtuanya adalah sang anak
selalu merasa lapar. Makanan yang harusnya bisa dimakan bertiga, dapat
dimakannya seorang diri.




     
Lama kelamaan, Putera menjadi anak yang agak nakal. Dia sering membuat
jengkel ayahnya. Bila disuruh membantu pekerjaan orang tua, Putera
selalu menolak. Namun sang istri selalu mengingatkan Toba agar selalu
sabar dengan ulah anak mereka.




"Baiklah, aku akan lebih sabar menghadapinya, bagaimana pun juga dia adalah anak kita" ucap Toba pada istrinya.




"Syukurlah ayah berpikir demikian, memang ayah seorang suami dan ayah yang baik hati" puji istri toba




     
Namun kesabaran Toba ada batasnya. Suatu hari, Putera disuruh
mengantarkan makanan ke sawah untuk ayahnya, Putera tidak menurutinya
dan hal itu membuat sang ayah marah. Toba pun pulang dan mendapati
anaknya sedang bermain bola. Seketika itu Toba menjewer telinga Putera
dan tanpa sadar berucap :




"Anak tak tahu diuntung! tak tahu diri ! dasar anak ikan!" umpat Toba pada anaknya tersebut




     
Putera pun berlari sambil menangis menuju Puteri, ibunya. Diceritakannya
semua kejadian yang dilakukan oleh ayahnya pada sang ibu. Puteri pun
sangat sedih karena sang suami telah melanggar sumpah atau larangan
tersebut.




     
Sang ibu pun menyuruh Putera agar segera pergi menuju bukit yang berada
tidak jauh dari rumahnya dan disuruhnya untuk memanjat pohon tertinggi
di puncak bukit tersebut. Putera pun menuruti perintah sang ibu meskipun
dia tidak tahu apa tujuannya.




     
Puteri sendiri berlari menuju sungai yang terletak di dekat rumahnya dan
menceburkan diri ke dalam sungai dan seketika itu berubah kembali
menjadi seekor ikan besar. Sesaat kemudian kilat menyambar-nyambar
disertai dengan bunyi guntur yang bergemuruh.




     
Seketika itu juga terjadilah hujan yang sangat lebat dan air sungainya
pun meluap menyebabkan banjir besar yang mengakibatkan petani tersebut
mati tenggelam. Dan beberapa waktu kemudian menenggelamkan desa tempat
dimana Toba tinggal dan lama kelamaan genangan air tersebut semakin luas
dan berubah menjadi danau yang amat besar yang kemudian dinamakan Danau Toba.




     
Sedangkan bukit yang didaki oleh Putera tadi berubah menjadi pulau kecil yang berada di tengah-tengah danau dan dinamakan Pulau Samosir.